Picture
Konsep yang mempengaruhi bentuk Sintaks dalam denah rumah di Bali adalah : Rwa Bhinedha, Tri Hita Karana, Tri Angga, Catuspatha dan Sangamandala.

Konsep rwa bhinedha adalah konsep pandangan bahwa dunia ini terdiri atas dua hal yang berlawanan, seperti keberadaan purusha (kelaki-lakian) yang berlawanan dengan perdana (kewanitaan), siang dengan malam, dunia atas dengan dunia bawah, kebaikan dan kejahatan, dsb. Dua hal yang bertentangan ini tidak saling memusnahkan dan menghilangkan salah satunya, melainkan keduanya harus berjalan selaras dan seimbang. Konsep dasar ini dianalogikan juga dalam relasi antara bangunan rumah tinggal dengan manusia penghuninya, di mana bangunan dianggap sebagai makrokosmos, dan penghuni sebagai mikrokosmos. Karena itu, aturan-aturan atau konsep filosofis kehidupan, terutama tentang masalah keseimbangan, juga diterapkan dalam desain bangunan.


Implikasi dari konsep rwa bhineda ini dalam desain adalah adanya orientasi kosmologis kaja-kelod untuk bangunan. Kaja adalah orientasi ke arah gunung, untuk orientasi ruang-ruang yang dianggap memiliki nilai utama, sementara kelod adalah orientasi ke arah laut untuk ruang-ruang yang dianggap bernilai rendah. Tetapi aplikasi orientasi kaja-kelod harus disesuaikan juga dengan konsep desa-kala-patra yang ada di masing masing daerah. Desa artinya daerah, kala artinya waktu, dan patra artinya situasi obyektif yang sedang terjadi. Maksudnya adalah, karena pulau Bali terbagi menjadi Bali Utara dan Selatan oleh deretan pegunungan yang membujur dari Barat ke Timur (Gunung Batu Kau, Gunung Batur, dan Gunung Agung), maka untuk Bali Utara (daerah Buleleng), kaja adalah ke arah gunung di selatan dan kelod ke arah laut di utara, sementar di Bali Selatan berlaku kebalikannya, kaja adalah ke arah gunung di Utara dan kelod ke arah laut di Selatan. Konsep orientasi yang berlaku pada arah horisontal adalah: zone Timur (kangin) sebagai arah terbitnya matahari dianggap sebagai zone sakral, yaitu tempat ruangruang yang dianggap utama, sebaliknya Barat (kauh) sebagai arah terbitnya matahari diperuntukkan untuk ruang-ruang yang dianggap nista.

Tri Hita Karana  adalah konsep tentang tiga sumber kebahagiaan atau keselamatan, di mana tri berarti tiga, hita berarti senang, gembira, bahagia, lestari, dan karana berarti sebab atau sumber. Konsep Tri Hita Karana adalah kebahagiaan akan tercipta melalui keseimbangan antara tiga buah unsur, yaitu (1) Atma: jiwa; (2) Khaya: tenaga; (3) Angga: fisik.

Tri Angga adalah ungkapan tata nilai yang membagi kehidupan fisik dalam tiga bagian hierarkis.
Penerapan konsep Tri Angga pada pola ruang pemukiman, yaitu di teritorial rumah tinggal dan bangunan arsitektur adalah sebagai berikut: (1) Dalam tata ruang area rumah tinggal, utama angga adalah pelataran pemerajan atau tempat sembahyang yang dianggap suci, madya angga adalah lokasi massamassa bangunan tempat tinggal, nista angga adalah teba, yaitu area kandang hewan, tempat pembuangan sampah/kotoran rumah tangga lainnya; (2) Pada bangunan, utama angga atau yang dianggap kepala adalah bagian atap (rab), madya angga adalah “badan” bangunan (pengawak), dan nista angga adalah “kaki” bangunan (bebataran).
Pada bidang vertikal, seperti pada bangunan dan manusia, dengan mudah dilihat bahwa utama angga adalah bagian atas (kepala), madya angga adalah bagian tengah (badan), dan nista angga adalah bagian
bawah (kaki), tetapi pada bidang horisontal, pembagian zone utama, madya dan nista didasari bukan oleh sumbu hierarki yang vertikal, tetapi oleh tata nilai ritual dan orientasi kosmologis, di mana zone yang dianggap bernilai utama adalah arah kaja (menghadap gunung) dan kangin (Timur sebagai arah terbitnya matahari–sumber kehidupan), dan zone yang dianggap nista atau bernilai rendah adalah arah kelod (menghadap laut) dan kauh (Barat).

Catuspatha adalah konsep ruang kosong di tengah-tengah pertemuan sumbu orientasi kosmologis (kaja-kelod) dan tata nilai ritual (kangin-kauh) pada pola ruang masyarakat tradisional Bali. Area pertemuan sumbu kaja-kelod dan kangin-kauh di tengah-tengah dibiarkan kosong karena nilai pusat dianggap kosong (pralina) sebagai simbol pusat kekuatan yang Maha Sempurna.
Penerapan konsep catuspatha pada pola ruang area rumah tinggal tradisional Bali adalah adanya ruang kosong (halaman tengah/inner court) di tengah-tengah sebagai area pertemuan sumbu kaja-kelod-kanginkauh, yang pada area rumah tinggal disebut natah. Karena area pusat ini dinilai paling tinggi sebagai simbol yang Maha Sempurna, maka semua bangunan di zone arah kaja-kelod-kangin-kauh dibuat menghadap area tengah.

Konsep sangamandala adalah pengembangan dari kombinasi konsep Tri Angga dan Catuspatha. Konsep sangamandala adalah pembagian ruang ke dalam 9 zone yang lahir dari aplikasi konsep Tri Angga dalam bidang vertikal dan horisontal, di mana ruang di tengah-tengah sebagai pusat dan simbol sumber kekuatan dibiarkan kosong (konsep catuspatha). Konsep Tri Angga membagi bidang atau sumbu vertikal orientasi kosmologis kaja-kelod dalam 3 zone ruang: utama, madya dan nista, sementara bidang atau sumbu horisontal orientasi tata nilai sakral kangin-kauh juga dibagi dalam 3 zone ruang: utama, madya dan nista. Kombinasi pembagian bidang vertikal dan horisontal ke dalam 3 zone ruang yang hirarkis, secara keseluruhan, menghasilkan 9 zone ruang. (lihat gbr di atas)
 





Leave a Reply.